10 Film Kung Fu Terbaik (IMHO)
Memuat...

10 Film Kung Fu Terbaik (IMHO)

Jika menurut sobat artikel ini bermanfaat,
silahkan vote ke Lintas Berita agar artikel ini bisa di baca oleh orang lain. AYO.. Beritahu Teman- teman kita
Thank you for using rssforward.com! This service has been made possible by all our customers. In order to provide a sustainable, best of the breed RSS to Email experience, we've chosen to keep this as a paid subscription service. If you are satisfied with your free trial, please sign-up today. Subscriptions without a plan would soon be removed. Thank you!
Wu-xia

Adegan duel "Wu Xia". (dok.ist.)

MENONTON Wu Xia tempo hari, saya begitu terkesan.

Tanpa ragu saya mengatakan Wu Xia termasuk salah satu film kung fu terbaik yang pernah saya tonton. Lalu, apa film-film lainnya?

Saat membuat daftar ini, terus terang saya kesulitan memilihnya. Begitu banyak film kung fu yang berkesan dan terus mengendap di kepala saya. Namun, hati ini sudah menetapkan hanya akan memilih 10 film saja.

Maka, tak ayal, dalam batin ini terjadi pergolakan. Saya seolah beduel dengan diri sendiri,menimbang baik-buruk sebuah film, dan mencoba tak ada repetisi pencapaian antara film satu dengan yang lain.

Karena hanya 10 pula, Wu Xia tidak masuk di daftar ini. Setelah menimbang-nimbang, film-film yang saya sebut di daftar ini rasanya punya nilai dan pengaruh lebih besar. Wu Xia mungkin menempati urutan ke-11.

Semoga Anda menyukai pilihan yang sudah susah payah saya putuskan ini. Tapi, tidak setuju juga boleh.

Kung_fu_hustle_010138_10. Kung Fu Hustle (2005)

Film ini adalah puncak pencapaian komedi nyeleneh khas Stephen Chow yang punya istilah Mo Lei Thou. Selama bertahun-tahun, Chow konsisten mengocok perut kita dengan komedi norak yang memancing tawa seperti Fight Back to School, Tricky Brains, King of Comedy, atau All for Winner. Sebagai pemanasan, Chow sebelumnya merilis Shaolin Soccer (2001) yang mencampur aduk komedi kung fu konyol dengan permainan sepakbola. Film itu sukses jadi box office di Hong Kong. Ramuan kung fu konyol serta memanfaatkan teknologi komputer agar adegan silat terlihat semakin spektakuler konyolnya, dipakai hingga batas maksimal di sini. Selain itu, Chow juga piawai meminjam berbagai kosa kata perfilman kung fu dan gangster Hong Kong era 1930-an. Maka, filmnya kelihatan tak cuma konyol, tapi juga berkelas. Tak heran sutradara Quentin Tarantino begitu menyukainya dan memuji Chow sebagai "aktor terbaik Hong Kong."

the_shaolin_temple9. The Shaolin Temple (1982)

Inilah penampilan pertama Jet Li sebagai aktor profesional. Umurnya waktu itu 18 tahun. Sebelum jadi aktor, Jet Li juara kung fu selama 5 tahun berturut-turut. Jet Li adalah pilhan tepat bagi sutradara Chang Sin yang berambisi membuat film kung fu yang realistis, tanpa trik-trik ala Hong Kong. Di film ini, Li berperan sebagai pemuda Jue Yuan yang mendendam karena ayahnya tewas oleh pasukan Jenderal Ang (Pang Qung Fu) yang lalim. Yuan gagal menolong ayahnya dan luka parah. Ia berlari dan tiba di biara Shaolin. Di biara ini Yuan berlatih kung fu sekaligus mengendalkan amarah. Kesempatan balas dendam tiba saat Jenderal Ang mengejar seorang napi hingga ke biara Shaolin. Biara bahkan dibakar sang jenderal, membuat Yuan makin bertekad membalaskan dendamnya.

fearless_jet18. Fearless (2006)

Jika The Shaolin Temple adalah film yang menampilkan Jet Li muda yang baru icip-icip jagad dunia perfilman, Fearless adalah kebalikannya. Film ini, buat saya menandai Jet Li yang kembali ke akarnya. Setelah malang melintang mencoba peruntungan di Hollywood dan jadi bintang internasional, Li kembali ke kampung halaman membuat film kung fu dengan nuansa yang sudah diakrabinya. Di sini, Li tidak sedang dipinjam untuk memberi varian baru film aksi Hollywood seperti Romeo Must Die atau The One. Di sini, Li jadi Jet Li yang kita kenal sejak One Upon a Time in China dan macam-macam film kung fu lainnya. Kembalinya Jet Li sebagai jago kung fu Huo Yuanjia di masa Dinasti Ching dengan kuncir taucang dan botak setengah mengingatkan kita pada sosok Li di film-film terdahulu. Namun, Fearless tidak sekadar memberi nuansa nostalgia bagi pencinta film kung fu. Sebagai kisah dunia persilatan, Fearless adalah cerita yang lengkap. Ini adalah kisah perjalanan hidup seorang manusia yang penuh tragedi, penemuan diri kembali, bahkan pada akhirnya menjadi pahlawan bag bangsanya.

iron_monkey7. Iron Monkey (1993)

Iron Monkey sering disebut sebagai Robin Hood versi Cina. Kisahnya memang mirip-mirip. Para pejabat korup di sebuah desa dirampok bandit bertopeng yang berjuluk "Monyet Besi". Saat semua cara menangkap Robin Hood Cina ini gagal, gubernur mengutus seorang dokter yang tengah berkelana (diperankan Donnie yen) untuk ikut menyelidik. Namun, kedatangan seorang biksu Shaolin yang jahat membuat sang dokter dan Monyet Besi malah bekerjasama melawan kejahatan. Film ini punya adegan duel yang sulit dilupa. Tak heran, sebab film ini digarap master film kung fu Yuen Woo-ping. Nama ini jadi jaminan mutu dan harum hingga ke Hollywood. The Matrix dan Kill Bill menggunakan Woo-ping sebagai penata kelahi.

ip_man_donnie_yen_b16. Ip Man (2008)

Siapa tak kenal Donnie Yen? Ya, pecinta film kung fu pasti mengenalnya lewat serial TV Kung Fu Master (pernah tayang di TPI) atau serial Fist of Fury (pernah tayang di RCTI). Di layar lebar, Donnie Yen ikut main Iron Monkey hingga Hero. Patut diakui karena begitu banyaknya bintang kung fu Mandarin, nama Yen tak pernah jadi bintang papan atas. Ia selalu disebut setelah Jackie Chan, Jet Li, atau bahkan Chow Yun Fat dan Andy Lau yang hanya bisa berakting, bukan jago kung fu betulan. Nah, syahdan, pada 2008, Yen membintangi Ip Man. Inilah puncak karier bagi Yen sebagai bintang kung fu. Sejak film ini kariernya malah semakin menjulang. Yen kini jadi bintang kung fu nomor wahid saat Jet Li maupun Jackie Chan makin jarang main film kung fu. Peran sebagai Ip Man, yang melawan Jepang dan kelak jadi guru Bruce Lee, juga membangkitkan perfilman Hong Kong untuk mengorek lebih jauh sosok asli Ip Man berikut Bruce Lee. Tak kurang ada 3 film soal Ip Man (dua lagi Ip Man 2 dan prekuel The Legend is Born-Ip Man) serta kisah Bruce Lee muda (Bruce Lee, My Brother, 2010).

hero-085. Hero (2003)

Siapa yang tak terpukau oleh Hero karya Zhang Yimou? Mengutip esai Goenawan Mohamad soal film ini, pada Hero yang "estetik tampil di tiap bagian yang ganas. Dalam silat sengit yang dihiasi hujan. Dalam tebas-menebas senjata besi yang diiringi musik dawai seorang buta. Dalam pertarungan dua perempuan bergaun merah di musim gugur, ketika loncatan tubuh dan kelebat pedang merontokkan ribuan daun ke warna magenta. Dalam adegan duel penghormatan di air lazuardi sebuah danau." Digugat Goenawan, ketika yang estetik begitu memukau tidakkah sebuah epos jadi kehilangan tujuannya? Mungkin. Film ini memang kemudian oleh sebagian besar orang dikenang karena adegan laga yang bak lukisan avant garde. Tapi, sejatinya, bila ditelusuri lebih jauh, film ini justru menyodorkan persoalan problematis. Terutama bila Anda sudah menbaca esai I Wibowo di majalah Tempo (17 Februari 2003). Seorang pendekar yang berencana membunuh raja yang lalim dengan membunuhi satu-persatu (atau mereka merelakan diri terbunuh?) lawan sang kaisar agar bisa duduk dekat kaisar pada akhirnya memutuskan tak jadi membunuh sang raja karena betapa lalimnya dia, Kaisar Qin, kaisar pertama Cina, ia telah mempersatukan enam negara yang semula berperang satu sama lain. Kaisar Qin telah berjasa menghentikan peperangan itu, mempersatukan semuanya menjadi satu negara, dan menghadirkan perdamaian "di seluruh dunia". Ditengok dari konteks Cina kontemporer, tak heran film ini mendapat restu dari pemerintah Cina karena isinya seolah memberi legitimasi bagi pemerintah. Dan tentu, Zhang Yimou menyampaikan pesannya penuh gaya.

drunken_l4. Drunken Master 1 (1978) & 2 (1994)

Setelah Bruce Lee tiada, perfilman Hong Kong kebingungan mencari penerus Lee sebagai duta budaya Asia lewat kemahiran ilmu bela diri kung fu. Penerus itu baru ditemukan di pertengahan 1970-an lewat sosok Jackie Chan. Namun, Chan sosok yang berbeda 180 derajat dari Lee. Lee bak naga yang dicekam amarah, mengamuk dengan ganas. Sedang Chan selalu tersenyum saat berkelahi; seorang petarung jenaka. Chan juga mengandalkan aksi berbahaya yang dilakukannya sendiri, ogah diganti stunt man. Chan angkat pamor lewat Drunken Master pertama (rlis 1978). Di film pertama ia berperan sebagai Freddy, pemuda ugal-ugalan yang sukanya bikin onar. Freddy semula lebih suka bikin masalah ketimbang belajar kung fu. Tapi, ia lalu bertemu kakek tua Sam Shie (Yuen Hsiao Tien) yang mengajarinya jurus mabuk. Sedang film kedua, Drunken Master 2 atau judul lainnya The Legend of Drunken Master (1994) berkisah tentang Wong Fei Hung muda. Jagoan silat Cina ini sudah sering difilmkan (termasuk oleh TsuiHark dengan Jet Li sebagai Wong Fei Hung di Once Upon a Time in China). Dalam versi Jackie Chan, Fei Hung tampil sebagai jago silat kung fu mabuk. Adegan perkelahian di klimaks saat melawan bule hingga terbakar bara api sangat mengesankan. Hanya Jackie Chan yang berani melakukan adegan maut tanpa stunt man.

crouching-tiger3. Crouching Tiger Hidden Dragon (1999)

Apakah Crouching Tiger Hidden Dragon akan jadi film silat biasa bila bukan Ang Lee yang mebesutnya? Bisa jadi iya. Nyatanya, di tangan Ang Lee, Crouching Tiger tidak sekadar film kung fu, melainkan film kelas Oscar. Artinya, tidak hanya disuka para penyuka film silat namun juga para kritikus film dan juri Oscar. Di Crouching Tiger Li Mu Bai (Chow Yun-Fat) bertempur dari pucuk ke pucuk bambu yang lentur dan meliuk-liuk; geraknya bak seorang penari piawai yang tenang. Majalah Variety menyebut adegan duel di film ini the unbelievable touch. Sulit dipercaya, tapi begitu indah. Sekali lagi, Yuen Woo-Ping yang menjadi penata kelahi film ini menunjukkan kelasnya dengan membuat film kung fu yang lain dari yang sudah-sudah: Adegan bertarung bisa seindah adegan tari balet.

once-upon-a-time-in-china-e2. Once Upon a Time in China (1991)

Film yang edar di sini dengan Kung Fu Master ini sudah jadi film silat klasik. Tsui Hark, bersama Jet Li, membuat inovasi agar adegan duel terlihat lebih keras. Tsui Hark hanya menggunakan menambahkan efek sederhana adegan duel terlihat meyakinkan bagi penonton: menambahkan debu. Setiap kali tendangan atau pukulan kena lawan, debu beterbangan menggambarkan betapa kerasnya lawn kena pukul dan tendang. Lewat film ini pula, film kung fu terlihat lebih realistis karena menggambarkan nuansa dekil mirip film-film western spaghetti khas Franco Nero. Selain inovasi adegan laga, film ini juga sukses mengangkat pahlawan rakyat Cina Wong Fei Hung ke layar lebar. Inilah karakter yang amat baik dimainkan Jet Li. Jet Li ya Wong Fei Hung, lain tidak.

fist_of_fury_01

1. Fist of Fury (1972)

Fist of Fury tidak saja film terbaik bagi mendiang Bruce Lee, tapi juga film kung fu terbaik yang pernah dibuat bagi saya. Di film ini, Lee berperan sebagai siswa Cina yang belajar di Jepang dan harus pulang mendengar guru silatnya tewas oleh Jepang yang tengah bersiap menjajah Cina. Tengok adegan Bruce Lee sendirian memporak-porandakan perguruan karate dengan tangan kosong maupun senjata andalannya, ruyung. Bagai naga mengamuk, Bruce Lee berteriak dengan lengkingan khasnya sambil main pukul dan tendang. Hanya Bruce Lee yang bisa melakukan itu. Fist of Fury mendongkrak karier Bruce Lee sebagai bintang internasional. Lewat film ini, ia mengukuhkan namanya, juga kung fu, pada negeri di luar Cina. Pengaruh film ini begit luas hingga perfilman Hong Kong tak henti membuat ulang film ini. Sepeninggal Bruce Lee, tahun 1976 lahir New Fist of Fury. Kemudian, Jet Li membuat versinya sendiri dan diberi judul baru Fist of Legend (1994). Serial TV-nya hadir 1995 dengan bintang Donnie Yen (pernah tayang di RCTI tahun 1997). Terakhir, tahun lalu, Legend of the Fist: The Return of Chen Zen.

(beritawa-baru)

noreply@blogger.com (admin) 25 Jul, 2011


--
Source: http://beritawa-baru.blogspot.com/2011/07/10-film-kung-fu-terbaik-imho.html
~
Manage subscription | Powered by rssforward.com

0 komentar:

Poskan Komentar